Badai La Nina, Siap-siap Tulungagung Dihajar Longsor, Banjir dan Angin, BPBD Mulai Antisipasi

  • Whatsapp
banner 728x250

TULUNGAGUNG mediahumaspolri.com / Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai melakukan antisipasi atas ancaman bencana hidrometeorologi. Hal ini mengacu peringatan BMKG yang memperkirakan datangnya badai La Nina pada November 2021 hingga Januari 2022 mendatang.

La Nina adalah fenomena alam di mana udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi. “Kami sudah persiapan menghadapi datangnya penghujan,” terang Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung, Soeroto, Minggu (24/10/2021).

Bacaan Lainnya
banner 728x250

Dampak yang diantisipasi akibat curah hujan yang tinggi adalah longsor dan banjir. Dan wilayah yang sudah dipetakan rawan longsor ada di Kecamatan Sendang meliputi 13 desa dan Kecamatan Pagerwojo meliputi 11 desa.

Dua kecamatan itu berada di wilayah pegunungan dan sangat rawan longsor karena kontur maupun minimnya pohon penahan longsor. “Dari desa-desa yang terpetakan rawan longsor, itu hampir mencakup semua wilayah di dua kecamatan ini,” sambung Soeroto.

Untuk mengantisipasi bencana longsor, Soeroto mengaku sudah menyiapkan peralatan evakuasi hingga logistik. Selain itu pihaknya juga telah bersiap untuk menyewa alat berat sewaktu-waktu.

Alat berat ini akan digunakan jika ada material longsor yang tidak mungkin disingkirkan dengan alat manual. “Ini untuk mengantisipasi jalan-jalan yang tertutup longsor. Supaya mobilitas warga tidak terganggu,” tegasnya.

Curah hujan tinggi juga menyebabkan sejumlah wilayah menjadi rawan banjir. Wilayah yang dipetakan antara lain di Kecamatan Campurdarat, Besuki dan Bandung. Khusus untuk Besuki dan Bandung merupakan banjir kiriman dari arah Kabupaten Trenggalek.

Air dari kawasan Kecamatan Watulimo dan Kota Trenggalek bertemu di Parit Raya kawasan Kecamatan Bandung, Tulungagung. Pertemuan air dari dua wilayah ini biasanya memicu luberan ke arah jalan. “Karena hanya luapan, biasanya tidak lama. Dua sampai tiga jam sudah hilang,” ungkap Soeroto.

Hal serupa juga terjadi di kawasan Kecamatan Campurdarat, seperti di kawasan SPBU Ngentrong hingga ke Jalan Pantai Popoh. Lokasi ini menjadi langganan banjir karena air dari arah pegunungan, atau biasa disebut ancar.

Soeroto mengingatkan masyarakat agar berhati-hati di jalan saat terjadi banjir. “Biasanya jalanan jadi licin, karena itu harus ekstra waspada jika harus melintas,” ujar Soeroto.

Sementara di saat pergantian musim seperti saat ini, bencana yang diantisipasi adalah angin kencang. Wilayah yang sering jadi sasaran angin kencang adalah Kecamatan Boyolangu, Kedungwaru, Sumbergempol, Ngunut, Rejotangan, Campurdarat, dan Pakel. (CTR)

Pos terkait