Ogoh  Ogoh KEDUWUNG suku Tengger Tertua

Pasuruan // Media Humas Polri

Umat Hindu suku Tengger akan melaksanakan hari raya Nyepi pada RABU , 22 Maret 2023. Hal itu berdasarkan (SKB) 3 menteri tentang hari libur Nasional dan cuti bersama , Adapun penetapan tertuang dalam Keputusan Presiden ( KepPres ) Nomer 3 Tahun 1983.

Bacaan Lainnya

Nyepi bermakna penyucian diri Manusia dan Alam , Hari raya Nyepi yakni perayaan atas Tahun Baru Saka menurut kalender umat Hindu.

“Oripani dan Lispiani” Kepala Desa Keduwung , Kecamatan Puspo , beserta istri saat di wawancara awak Media Humas Polri, Selasa (21/03/2023) Menuturkan bahwa ada beberapa larangan saat perayaan Nyepi.

Ada empat larangan pada perayaan Nyepi bagi umat Hindu. Tujuannya agar ibadah berjalan dengan hikmat. Empat larangan tersebut yakni Amati geni, Amati karya, Amati lelungan, dan Amati lelanguan. Adapun penjelasan lengkapnya:

1. “Amati Geni”
Amati geni adalah pantangan dalam menyalakan Api, Lampu, dan benda elektronik lainnya selama 24 jam. Ini dilakukan umat Hindu sebagai bentuk simbolis melawan hawa nafsu Duniawi.

2. “Amati Karya”
Amati karya adalah pantangan dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan dalam bentuk apapun selama perayaan nyepi berlangsung.

3. “Amati Lelungan”
Amati lelungan yakni larangan untuk bepergian agar umat Hindu dapat dengan khusuk dan tertib dalam melakukan ibadah.

4. “Amati lelanguan”
Amati lelanguan yakni larangan bersenang-senang saat perayaan Nyepi. Segala bentuk kesenangan duniawi ditinggalkan sejenak oleh umat Hindu saat melaksanakan ibadah Nyepi.

Larangan-larangan tersebut dilakukan agar waktu pelaksanaan Nyepi dapat terjalin dengan hikmat. Bahkan, umat Hindu Tengger juga melakukan puasa saat ibadah Nyepi. Selain larangan yang harus dihindari selama Nyepi, ada tradisi pawai ogoh-ogoh yang kerap kali dilaksanakan sebelum acara Nyepi dimulai. Bagi umat Hindu suku Tengger pawai ogoh-ogoh dilakukan untuk menyambut datangnya hari raya Nyepi.

Ogoh-ogoh sendiri dilambangkan dalam bentuk yang menyeramkan sebab merepresentasikan kekuatan negatif atau dalam ajaran Hindu bernama Bhuta Kala. Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok besar dan berwujud raksasa. Maka dari itu, kerap kali ditemukan ogoh-ogoh yang berbentuk menyeramkan dengan perawakan yang besar dan tinggi. Ini juga yang menjadi alasan kenapa ogoh-ogoh harus dibakar sebagai simbol pemusnahan sifat-sifat buruk manusia seperti iri, dengki, dan serakah agar tak membawa pengaruh buruk juga dikemudian hari.

Mengarak ogoh-ogoh biasanya dilakukan saat sehari sebelum melakukan perayaan Nyepi. Saat pengarakan ogoh-ogoh, khususnya di suku Tengger dari desa keduwung kecamatan Puspo hingga Wonokitri, Kecamatan Tosari hal ini menjadi daya tarik masyarakat yang beragama lain menjadi simbolis Persatuan dan Kesatuan.

“Desa keduwung biasanya di utamakan dan di dahulukan untuk kegiatan ritual di karenakan Keduwung adalah suku Tengger tertua” pungkas Oripani Kepala desa Keduwung beserta istri. (NAWANGSARI)

Pos terkait